BRIN Temukan Kontaminasi Bahan Aktif Obat di Sungai Citarum

Avatar
Ilustrasi: Sejumlah aktivis dan relawan dari Walhi Jawa Barat menaiki perahu untuk melihat kualitas air dari Sungai Citarum saat Aksi untuk Kualitas Air Sungai Citarum di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Minggu (19/5/2024). . ANTARA FOTO/Novrian Arbi/YU (ANTARA FOTO/NOVRIAN ARBI)
banner 468x60

NALARNESIA.COM – Badan Riset dan Inovasi Nasional () menemukan adanya (APIs) di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum Hulu, .

Rosetyati Retno Utami, peneliti dari Kelompok Riset Ekotoksikologi Perairan Darat, Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air , mengungkapkan dalam keterangannya di pada hari Senin, 8 Juli 2024 bahwa penelitian dilakukan dengan menghitung konsentrasi bahan aktif obat yang diminum, frekuensi penggunaan obat, jumlah obat yang dikonsumsi, dan durasi masa sakit responden dalam setahun.

banner 225x100

“Kemudian kami akan mengestimasi seberapa banyak dari rata-rata penggunaan itu dengan ekstrapolasi terhadap jumlah penduduk di suatu DAS. Hasilnya, untuk bahan kimia aktif dapat dilihat bahwa ternyata paracetamol dan amoxcillin menjadi APIs dengan penggunaan paling besar di DAS Citarum Hulu,” kata Rosetyati.

Rosetyati menemukan bahwa penggunaan antibiotik di DAS Citarum Hulu cukup besar, dengan paracetamol menjadi yang tertinggi dengan jumlah 460 ton per tahun, serta amoxicillin sebanyak 336 ton per tahun.

BACA JUGA: Imbas Air Sungai Ciliwung Meluap di Perempatan Hek, Pemerintah Kecamatan Kramat Jati Bangun Tanggul Sementara

“Jika terjadi kontaminasi di perairan/ekosistem akuatik, tentu saja akan membahayakan bagi organisme akuatik dan juga manusia,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa sumber-sumber kontaminasi bahan aktif obat yang mungkin masuk ke antara lain berasal dari kegiatan peternakan yang banyak menggunakan dan hormon untuk meningkatkan hasil ternak, penggunaan obat rumah tangga, industri, serta sistem pengelolaan limbah obat di rumah sakit yang mungkin mengalami kebocoran, sehingga obat dapat masuk ke ekosistem air.

Rosetyati menambahkan bahwa penanganan penggunaan bahan aktif obat oleh masyarakat setempat masih kurang, sehingga menimbulkan risiko pencemaran ekosistem akuatik.

BACA JUGA: Gunung Semeru Kembali Muntahkan Kolom Abu Berwarna Putih Hingga Kelabu Ke Arah Selatan

Luki Subehi, Plt Kepala Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air , menekankan pentingnya perhatian terhadap perilaku masyarakat dalam penanganan penggunaan obat, termasuk pembuangan obat yang tidak terpakai. Menurutnya, tingginya populasi di sekitar DAS membuat hal ini penting untuk mencegah tambahan faktor-faktor pencemar sungai.

“Dengan informasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat pentingnya pola perilaku yang tidak mencemari badan air/sungai dan praktik yang lebih baik dalam pengelolaan limbah ,” kata Luki Subehi.***

Leave a Reply