Nikita Willy Bagikan Tips Atasi Anak yang Alami Trauma Makan

Avatar
Aktris Nikita Willy (tengah) menceritakan pengalaman mengasuh sang anak saat menghadiri acara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-70 Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang diselenggarakan di Jakarta, Sabtu (22/6/2024). (ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti)
banner 468x60

NALARNESIA.COM – Aktris membagikan beberapa strategi untuk mengatasi yang dialami anaknya setelah mengalami pengalaman negatif saat di bersama kakek dan neneknya.

“Kita semua tahu kalau proses makan itu ada di meja makan, jadi kalau peraturan di rumah saya, kita biasa makan di meja dan anak di high chair, andai anak mau turun dari kursi, itu artinya proses makan selesai,” kata Nikita dalam HUT ke-70 IDAI di , Sabtu, 21 Juni 2024.

banner 225x100

Nikita mengungkapkan bahwa anak pertamanya, Isa, mengalami setelah dibiasakan dengan camilan enak oleh kakek dan neneknya di . Kedua orang itu bahkan menyanyikan lagu dan memberikan pujian saat menyuapi Isa. Akibatnya, setelah pulang ke , Isa sering menangis saat dihadapkan dengan makanan di meja makan.

“Akhirnya anak saya jadi trauma, saya tahu karena setiap diduduki di high chair, dia menangis, dia benci makan,” kata Nikita.

BACA JUGA: Tips Memilih Makanan yang Baik Untuk Anak Usia 1 Tahun, Usahakan Hindari Makanan Ini

Untuk mengatasi tersebut, Nikita menerapkan “reset week”, di mana selama seminggu penuh ia memfokuskan pada reintegrasi makanan dengan Isa.

Nikita memilih menu makanan yang menarik perhatian Isa dan memastikan agar tidak ada komentar negatif yang bisa memperburuk kondisi Isa, hanya fokus pada memastikan bahwa Isa makan saat lapar seperti umumnya manusia.

“Alhamdulillah ini berhasil karena dia mengikuti rasa laparnya, jadi saat dia lapar, dia makan tanpa henti,” kata dia.

Menanggapi masalah ini, Ketua Unit Kerja Koordinasi Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI, Dr. Titis Prawitasari, mengatakan bahwa anggota keluarga seperti kakek dan nenek sering tak disengaja menjadi distraktor saat anak makan.

BACA JUGA: Psikolog Sarankan Orang Tua Menghindari Komunikasi Pasif dan Agresif pada Anak

“Seringkali anak duduk di high chair, kita (orang tua) berkeliling, makanya anak tidak ada contoh. Jadi bukan hanya gadget, tapi orang di sekelilingnya bisa mendistraksi, belum kalau tinggal di pinggir gang ada suara telolet, teriakan tukang ketoprak dan lain sebagainya,” ujar Titis.

Dia menyarankan pentingnya mendidik anggota keluarga dengan disiplin dan edukasi yang ramah, serta menghindari gangguan seperti gadget dan kegiatan orang tua di sekitar meja makan.

“Pastikan anak itu bukan makan harus di belakang, sunyi, senyap. Makan is makan, jadi tidak usah panjang-panjang durasinya. Cukup 20-30 menit it's ok, kalau sudah kenyang kita sudahi, nanti kasih lagi begitu dia lapar,” katanya.

Titis menganjurkan kepada semua ibu untuk mencegah trauma makan dengan konsistensi dalam pola makan dan kesabaran dalam mengajarkannya kepada anggota keluarga lain. Selain itu, ia menyarankan agar anak tidak terlalu lama untuk menjaga fokus dan keefektifan makan.***

Leave a Reply