Bank Jakarta Ubah Sampah Organik Jadi Biogas, Biodigester Dibangun di 2 Lokasi Jakarta Utara

Avatar
Rorotan jadi lokasi biodigester Bank Jakarta, 500 Kg sampah organik bakal diolah setiap hari. (Istimewa)
banner 468x60

NALARNESIA.COM – Persoalan sampah organik menjadi perhatian serius dalam pengelolaan lingkungan perkotaan. Di tengah upaya Jakarta mengurangi beban pembuangan sampah ke tempat pemrosesan akhir, pengolahan sampah dari sumbernya mulai didorong melalui berbagai pendekatan, termasuk pemanfaatan teknologi biodigester.

Langkah tersebut turut dilakukan Bank Jakarta melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Bank milik Jakarta itu akan membangun biodigester komunal berbasis sampah organik di dua lokasi di Jakarta Utara, yakni , Cilincing, dan 3R Kelurahan Rawa Badak Utara.

banner 225x100

Program tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama atau groundbreaking di , Senin (10/8/2026).

Acara tersebut dihadiri Sekretaris Perusahaan Bank Jakarta Arie Rinaldi, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Wali Kota Jakarta Utara Wawan Budi Rohman, Sekretaris Kota Administrasi Jakarta Utara Iyan Sopian Hadi, Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara Edy Mulyanto, serta Camat Cilincing Daniel Azka Alfarobi.

BACA JUGA: Bank Jakarta Buktikan Kualitas Layanan Digital, JakOne Mobile Raih Penghargaan Nasional

Bank Jakarta Agus H. Widodo mengatakan pembangunan biodigester merupakan bentuk kontribusi perusahaan dalam membantu pemerintah menangani persoalan sampah, terutama sampah organik.

Menurut dia, teknologi biodigester memungkinkan sampah organik diolah melalui proses biologis menjadi biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan. Sementara residu hasil pengolahan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

“Pembangunan biodigester di Rorotan merupakan bentuk kontribusi nyata Bank Jakarta untuk turut menjawab pengelolaan sampah di Jakarta. Kami ingin program TJSL yang dijalankan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus mendukung upaya menjaga lingkungan Jakarta,” ujar Agus.

Olah 500 Kilogram Sampah per Hari

Program biodigester ini tidak sekadar ditujukan untuk mengurangi volume sampah. Bank Jakarta juga merancang fasilitas tersebut agar sampah organik memiliki nilai tambah setelah melalui proses pengolahan.

BACA JUGA: P3RSI Temui Kementerian PKP, Pengurus Apartemen Soroti Kewajiban NIB yang Dinilai Membingungkan

Masing-masing unit biodigester dirancang mampu mengolah hingga 250 kilogram sampah organik per hari. Dengan dua unit yang akan dibangun, kapasitas pengolahan total mencapai 500 kilogram sampah organik setiap hari.

Berdasarkan kajian teknis yang disampaikan Bank Jakarta, dua unit tersebut diproyeksikan menghasilkan sekitar 37,5 meter kubik biogas per hari.

Pengoperasian biodigester juga diperkirakan mampu mengurangi emisi gas rumah kaca sekitar 423 kilogram CO2e per hari atau setara 154,4 ton CO2e per tahun.

Dengan kapasitas tersebut, program ini diharapkan tidak hanya mengurangi sampah yang harus dibawa ke fasilitas pengolahan lanjutan, tetapi juga menghasilkan energi dan produk samping yang dapat dimanfaatkan kembali.

Langkah ini sejalan dengan kebijakan Pemprov DKI Jakarta yang mulai mendorong pemilahan dan pengolahan sampah berdasarkan jenisnya. Melalui Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026, sampah organik seperti sisa makanan, kulit buah, daun, dan material mudah terurai diarahkan untuk diolah antara lain melalui komposting, maggot BSF, dan biodigester.

BACA JUGA: Transformasi Besar Bank Jakarta! KCP Kebayoran Park Tampil dengan Wajah Baru dan Layanan Super Modern

Rorotan Jadi Salah Satu Titik Penting

Pemilihan Rorotan sebagai salah satu lokasi biodigester juga memiliki konteks tersendiri. Wilayah di Kecamatan Cilincing tersebut tengah menjadi salah satu kawasan percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup pada Maret 2026 bahkan menjadikan Rorotan sebagai lokasi program “Kelurahan Rorotan Pilah Sampah 100%”, yang mendorong masyarakat memilah sampah dari tingkat rumah tangga, terutama sampah organik.

Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. mencatat gerakan pemilahan sampah di Rorotan berhasil mengurangi sekitar 6,5 ton sampah yang dikirim ke fasilitas pengolahan seperti RDF Rorotan dan TPST Bantargebang, dari total produksi sampah harian sekitar 40 ton di wilayah tersebut.

Kondisi itu membuat pengolahan sampah dari sumber menjadi semakin penting. Sampah yang sudah dipilah dapat diarahkan ke metode pengolahan sesuai karakteristiknya, sehingga tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan.

Sekretaris Perusahaan Bank Jakarta Arie Rinaldi mengatakan, pengelolaan sampah membutuhkan kesinambungan program dan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, serta dunia usaha.

BACA JUGA: Beli Rumah Tanpa DP di Bekasi? Harmoni Park Bekasi Beri Banyak Bonus, Gratis Biaya dan Subsidi Angsuran

“Melalui pembangunan biodigester ini, Bank Jakarta mengambil bagian dalam upaya pengelolaan sampah organik dari sumber sekaligus mendorong agar sampah dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” kata Arie.

Dia menambahkan, kolaborasi dengan Pemprov DKI Jakarta menjadi faktor penting agar pengelolaan sampah dapat dilakukan secara lebih terintegrasi.

Lanjutkan Program Biodigester

Pembangunan biodigester di Rorotan dan Rawa Badak Utara bukan menjadi langkah pertama Bank Jakarta dalam memanfaatkan teknologi pengolahan sampah organik.

Sebelumnya, Bank Jakarta telah mendukung pembangunan instalasi biodigester komunal di Kelurahan Pekayon, Rebo, . Fasilitas tersebut diresmikan pada November 2025.

Pengalaman dari program di Pekayon kemudian menjadi pijakan bagi Bank Jakarta untuk memperluas pemanfaatan teknologi biodigester ke wilayah lain.

“Pengalaman dari program biodigester di Pekayon menjadi bagian dari upaya kami untuk terus memperluas kontribusi di bidang lingkungan. Kini, kami memperluas pemanfaatan teknologi biodigester yang berasal dari pengolahan sampah organik yang berasal dari sumber melalui program kolaborasi bersama Jakarta,” ujar Arie.

BACA JUGA: 15 Tahun Berturut-turut! Bank Jakarta Borong 3 Penghargaan Bergengsi Sekaligus

Pengembangan fasilitas pengolahan sampah organik tersebut menjadi semakin relevan karena Jakarta tengah mendorong perubahan pola pengelolaan sampah dari sekadar mengangkut dan membuang menjadi memilah dan mengolah sejak dari sumber.

Selain biodigester, Pemprov DKI juga mengembangkan pendekatan lain untuk mengurangi sampah yang masuk ke fasilitas pembuangan. Di Rorotan, misalnya, RDF Plant dioperasikan secara bertahap sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas pengelolaan sampah Jakarta.

Namun, biodigester memiliki karakteristik berbeda karena secara khusus dapat dimanfaatkan untuk mengolah material organik yang mudah terurai. Karena itu, pemilahan dari rumah tangga dan kawasan permukiman menjadi kunci agar teknologi tersebut dapat bekerja secara optimal.

Masuk Agenda Keuangan Berkelanjutan

Dari sisi perusahaan, program biodigester juga menjadi bagian dari implementasi Rencana Aksi Keuangan Berkelanjutan (RAKB) Bank Jakarta 2026.

Fokusnya mencakup pengelolaan limbah organik, pengurangan emisi gas rumah kaca, serta pemanfaatan energi terbarukan.

Program tersebut sekaligus dikaitkan dengan sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain SDG 7 tentang energi bersih dan terjangkau, SDG 11 mengenai kota dan permukiman berkelanjutan, SDG 12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim, serta SDG 17 mengenai kemitraan.

BACA JUGA: Terpilih Secara Aklamasi, Ariyanto Hermawan Siap Kawal Hak Penghuni Rumah Susun

Bagi Jakarta, pendekatan seperti ini menjadi penting karena persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah kapasitas fasilitas pembuangan. Pengurangan sampah dari sumber dan pemanfaatan kembali material yang masih memiliki nilai menjadi bagian penting dari sistem pengelolaan sampah berkelanjutan.

Bank Jakarta pun menempatkan perannya sebagai financial backbone bagi Jakarta untuk mendukung kebutuhan pembangunan kota melalui pembiayaan dan aktivitas ekonomi yang berorientasi pada keberlanjutan.

Melalui pembangunan biodigester komunal, sampah organik yang selama ini dipandang sebagai persoalan diharapkan dapat diubah menjadi sumber energi dan produk yang memiliki manfaat ekonomi.

Pada akhirnya, keberhasilan program ini tidak hanya ditentukan oleh teknologi biodigester. Pemilahan sampah dari rumah tangga, konsistensi operasional, keterlibatan masyarakat, serta kolaborasi dengan pemerintah akan menjadi faktor penting agar sampah benar-benar dapat diolah dari sumber dan memberikan manfaat bagi lingkungan maupun warga Jakarta. ***

Leave a Reply