Jangan Terlena! Kebanyakan Pasian Gagal Ginjal Berusia Dibawah 50 Tahun

Avatar
Ilustrasi ginjal (unsplash/Robina Weermeijer)
banner 468x60

NALARNESIA.COM – Dokter Spesialis Penyakit Dalam (RSUI) dr. Muhammad Hafiz Aini, Sp.PD, menyatakan bahwa saat ini angka kejadian gagal ginjal tertinggi di Indonesia terjadi pada pasien yang berusia di bawah 50 tahun, dan penanganan segera oleh dokter sangat penting untuk mencegah memperburuk kondisi ginjal.

“Berdasarkan survei di Indonesia, ternyata nomor satu atau tertinggi kejadian gagal ginjal terjadi pada pasien di bawah 50 tahun, dan bisa kita anggap sebagai pasien usia muda,” kata Hafiz dikutip dari Antara, Selasa, 26 Maret 2024.

banner 225x100

Gagal ginjal adalah suatu kondisi di mana fungsi sistem ekskresi ginjal terganggu dan tidak dapat beroperasi dengan baik. Kondisi ini biasanya merupakan tahap akhir dari penyakit ginjal, di mana ginjal mengalami kerusakan berat atau berlangsung dalam jangka waktu yang lama.

Lebih lanjut, Hafiz menjelaskan bahwa penyebab utama gagal ginjal pada pasien usia muda (18-45 tahun) saat ini didominasi oleh , , radang ginjal, dan gangguan struktur pada ginjal seperti kista.

BACA JUGA: Darah Tinggi Bisa Rusak Organ Tubuh, Tangani Segera!

“Penyebabnya banyak, bisa karena penyakit dari tubuh (diabetes), gangguan pembuluh darah (), kerusakan pada ginjalnya itu sendiri, seperti radang ginjal dan penyakit polikistik yang berhubungan dengan , dan batu ginjal yang menyumbat saluran kemih,” kata dokter lulusan itu.

Faktor-faktor ini dipicu oleh tidak sehat, obesitas, serta faktor , yang menyebabkan banyaknya pasien muda yang mengalami gagal ginjal.

Meskipun kebanyakan pasien dengan masalah ginjal tidak menunjukkan gejala khusus, penting bagi mereka untuk waspada terhadap gejala-gejala yang menunjukkan adanya gagal ginjal.

“Gejalanya bervariasi, dari yang ringan sampai yang berat. Namun, sebagian besar pasien tidak bergejala,” kata Hafiz.

BACA JUGA: Pentingnya Memeriksa Kesehatan Panggul Pasca Melahirkan

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai sebagai indikasi gagal ginjal antara lain urin berbusa dan berwarna merah, peningkatan tekanan darah, mual dan muntah, rasa lemas dan letih, anemia, gangguan urinasi, sesak napas, dan pingsan.

“Pengobatannya dengan cara pencegahan. Bagaimana kita bisa mencegah ginjal untuk tidak mengalami penurunan fungsi dan jika sudah mengalami penurunan fungsi (kondisinya) tidak semakin parah,” kata Hafiz. 

Untuk mencegah kondisi gagal ginjal, dapat dilakukan dengan menerapkan dan mengonsumsi air putih sesuai anjuran dokter.

Dia melanjutkan, “Pertama, jalani gaya . Lalu, hidrasi tubuh yang cukup dengan 2-3 liter air putih sehari (untuk orang dengan kondisi kesehatan normal), diet seimbang dan sehat, mengatur pengobatan faktor risiko, dan deteksi dini,” katanya.

BACA JUGA: Tips Memilih Menu Makanan untuk Sahur dan Berbuka Selama Ramadhan

Jika pasien mengalami penurunan fungsi ginjal, mereka perlu melakukan evaluasi rutin dan pengobatan komplikasi penyakit yang mungkin timbul. Meskipun tidak dapat disembuhkan, pengobatan dan evaluasi rutin dapat mencegah kondisi ginjal semakin memburuk.

Namun, jika kondisi gagal ginjal sudah mencapai tahap akhir di mana ginjal tidak dapat lagi membuang limbah dengan sendirinya, maka pasien perlu menjalani terapi dialisis atau bahkan transplantasi ginjal.

“Kalau sudah tahap akhir, maka harus dilakukan terapi yang disebut terapi pengganti ginjal, yaitu hemodialisis, peritoneal dialisis, dan transplantasi ginjal,” demikian penjelasan Hafiz Aini.***